• September 2014
    M S S R K J S
    « Apr    
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    282930  

psikologi perkembangan

PENDAHULUAN

Setiap kebudayaan manusia memiliki bahasa. Bahasa manusia berjumlah ribuan, yang begitu bervariasi diatas permukaan bumi sehingga banyak dari kita putus asa mempelajari lebih dari satu. Tetapi semua bahasa manusia memiliki beberapa karakteristik yang umum. Bahasa ialah suatu sistem simbol yang digunakan untuk berkomunikasi dengan orang lain. Pada manusia, bahasa ditandai oleh daya cipta yang tidak pernah habis dan adanya sebuah sistem aturan. Daya cipta yang tidak pernah habis ialah suatu kemampuan individu untuk menciptaka sebuah kalimat bermakna yang tidak pernah berhenti dengan menggunakan seperangkat kata dan aturan yang terbatas, yang menjadikan bahasa sebagai upaya yang sangat kreatif. Sistem aturan bahasa meliputi Fonologi, Morfologi, Sintaksis, Semantik dan Pragmatik. Fonologi ialah studi tentang sistem bunyi-bunyian bahasa. Morfologi mengacu pada ketentuan-ketentuan pengkombinasian morfem, dimana morfem ialah rangkaian bunyi-bunyian terkecil yang memberi makna kepada apa yang kita ucapkan dan dengar. Sintaksis melibatkan bagaimana kata-kata dikombinasikan untuk membentuk ungkapan dan kalimat yang dapat diterima. Semantik mengacu kepada makna kata dan kalimat. Serta perangkat terakhir ketentuan-ketentuan bahasa meliputi Pragmatik, yaitu kemampuan untuk melibatkan diri dalam percakapan yang sesuai dengan maksud dan keinginan.

SEJARAH PERKEMBANGAN BAHASA

Meski nama/istilah psikolinguistik baru muncul pada tahun 1954 dalam buku Thomas A.Sebeok dan Charles E, Osgood yang berjudul Psycholinguistik : A Survey of Theory and Research Problems namun sebenarnya sejak zaman Panini, ahli tata bahasa dari India, dan Sokrates ahli filsafat dari Yunani, pengkajian bahasa telah dilakukan orang.

Pada abad silam terdapat 2 aliran filsafat yang saling bertentangan dan saling mempengaruhi perkembangan linguistik dan psikologi. Yang pertama adalah aliran empirisme yang mempunyai ikatan erat dengan psikologi asosiasi. Aliran empirisme menlakukan penelitian terhadap data empiris atau objek yang dapat diobservasi dengan cara menganalisis unsur pembentuknya sampai yang sekecil-kecilnya. Oleh karena itu aliran ini disebut bersifat atomistik dan lazim dikaitkan dengan asosianisme dan positivisme. Aliran kedua dikenal dengan nama rasionalisme. Aliran ini mengkaji akal sebagai satu keseluruhan dan menganggap bahwa faktor-faktor yang ada dalam akal inilah yang patut diteliti untuk bisa memahami perilaku manusia. Oleh karena itu aliran ini disebut bersifat holistik dan biasa dikaitkan dengan paham nativisme, idealisme, dan mentalisme

Pada awal perkembangannya, psikolinguistik bermula dari adanya pakar linguistik yang berminat pada psikologi dan adanya pakar psikologi yang berkecimpung di bidang linguistic

1. Psikologi dalam linguistik

Dalam sejarah linguistik ada beberapa pakar linguistik yang tertarik dengan bidang psikologi. Di antara mereka yang paling terkenal adalah Wilhelm von Humboldt, Ferdinand de Saussure, Edward Sapir, Leonard Bloomfield, Otto Jespersen.

Wilhelm Von Humboldt (1767-1835,Jerman) pakar linguistik ini mencoba mengkaji hubungan antara linguistik(bahasa) dengan pemikiran manusia (psikologi).Caranya dengan membandingkan tata bahsa dari bahasa yang berlainan dengan tabiat bangsa yang berbeda-beda.Dari situ diambil kesimpulan bahwa tata bahasa mempengaruhi pandangan hidup penutur bahasa itu. Tampaknya, Von Humboldt dipengaruhi oleh aliran rasionalisme. Dia menganggap bahwa bahasa itu bukanlah sesuatu yang bisa dipotong-potong dan diklasifikasikan sebagai aliran empirisme. Menurut Von Humboldt bahasa itu merupakan satu kegiatan yang memiliki prinsip tersendiri.

Ferdinand de Saussure(1858-1913,Swiss) Beliau telah berusaha menerangkan apa bahasa itu dan bagaimana keadaan bahasa di otak. Beliau memperkenalkan 3 istilah tentang bahasa :langage(bahasa pada umumnya yang bersifat abstrak), language(bahasa khusus yang bersifat abstrak) dan parole(bahasa sebagai tuturan yang bersifat konkret). Saussure menegaskan objek kajian linguistik adalah language sedangkan objek kajian psikologi adalah parole. Berarti kalau ingin mempelajari bahasa secara utuh maka ilmu linguistik dan psikologi harus digunakan.

Edward Sapir(1884-1939,Amerika) menurut Sapir psikologi dapat memberikan dasar yang kuat dalam pengkajian bahasa. Beliau juga mengkaji hubungan antara bahasa dengan pemikiran. Dari kajian itu beliau berkesimpulan bahwa bahasa terutama strukturnya merupakan sesuatu yang menentukan pemikiran manusia.Beliau juga menekankan bahwa linguistik dapat membantu psikologi gestalt.

Leonard Bloomfield(1887-1949,Amerika) Dalam menganalisis bahasa Bloomfield dipengaruhi oleh 2 aliran psikologi yang saling bertentangan yaitu mentalisme dan behaviorisme. Pada mulanya beliau menggunakan prinsip-prinsip mentalisme(yang sejalan dengan teori psikologi Wundt). Di sini beliau berpendapat bahwa berbahasa dimulai dari melahirkan pengalaman yang menyenangkan terutama karena adanya tekanan emosi yang kuat. Jika melahirkan pengalaman dalam bentuk bahasa ini karena adanya tekanan emosi yang kuat maka muncullah ucapan(kalinat) ekslamasi. Jika pengalaman ini lahir dari keinginan berkominasi maka lahirlah kalimat deklarasi. Jika keinginan berkomunikasi ini bertukar menjadi kenginan untuk mengetahui maka akan menjadi kalimat interogasi. Tapi sejak tahun 1925 Bloomfield meninggalkan psikologi mentalisme Wundt lalu menganut paham psikologi behaviorisme Watson dan Weiss. Beliau menerapkan teori psikologi behaviorisme dalam teorinya yang kini terkenal dengan nama “linguistik struktural” dan “linguistik taksonomi”

Otto Jespersen(Denmark) Jespersen menganalisis bahasa menurut psiokologi menurut psikologi mentalistik yang juga berbau behaviorisme. Jaspersen berpendapat bahwa bahasa bukanlah satu wujud dalam arti satu benda seperti sebuah meja melainkan berupa satu fungsi manusia sabagai lambang-lambang di dalam otak yang melambangkan pikiran atau yang membangkitkan pikiran itu. Jadi juga bersifat behavioristik. Malah beliau juga berpendapat bahwa satu kata dapat dibandingkan dengan satu kebiasaan perilaku

2. Linguistik dalam Psiokologi

Ada beberapa pakar psikologi yang menaruh perhatian padalinguistik ,seperti John Dewey, Karl Buchler, Wundt, Watson, Weiss

John Dewey(1859-1952,Amerika) Beliau mengkaji bahasa dan perkembangnnya dengan cara menafsirkan analisis lingustik bahasa kanak-kanak berdasarkan prinsip-prinsip psikologi. Umpamanya beliau menyarankan agar penggolongan psikologi akan kata-kata yang dicuapkan kanak-kanak dilakukan berdasarkan makna yang dipahami anak-anak

Bukan seperti makna yang dipahami oleh orang dewasa. Dengan cara ini maka berdasarkan prinsip-prinsip psikologi akan didapat ditentukan hubungan antara kata-kata adjective dan preposisi di satu pihak dengan kata-kata berkelas adverbia dan preposisi. Jadi dengan pengkajian kelas kata berdasarkan pemahaman kanak-kanak kita akan dapat menentukan kecenderungan mental anak-anak yang dihubungkan perbedaan-perbedaan linguistik.

Karl Buchler(Jerman) dalam bukunya yang berjudul Sprach Theorie beliau menyatakan bahwa bahasa manusia mempunyai 3 fungsi yang disebut Kungabe(kemudian disebut Ausdruck) Appell(sebelumnya disebut auslosung)

HUBUNGAN BERBAHASA, BERPIKIR DAN BERBUDAYA

Berbahasa dalam arti komunikasi dimulai dengan membuat enkode sematik dan enkode gramatikal di dalam otak pembicara kemudian dilanjutkan dengan pembuatan enkode fonologi. Dilanjutkan dengan penyusunan dekode fonologi,dekode gramatikal dan dekode semantik pada pihak pendengar.

Beberapa pendapat yang di kemukakan oleh sejumlah pakar yakni tentang beberapa teori :

  1. Teori Wilhelm von Humboldt

Beliau menekankan bahwa pemikiran manusia tidak bisa lepas dari bahasa maksudnya pandangan hidup adn budaya manusia ditentukan oleh bahasa manusia itu sendiri.Anggota-anggota masyarakat itu tidak bisa menyimpang dari lagi dari garis-garis yang ditentukan bahasanya itu.Kalau seseorang ingin mengubah pandangan hidupnya maka dia harus belajar dulu satu bahasa lain.Mengenai bahasa itu sendiri Humboldt berpendapat bahwa bahasa itu dibagi menjadi dua bagian yaitu bunyi-bunyian dan pikiran-pikiran yang belum terbentuk.Bunyi-bunyi dibentuk oleh lautform dan pikiran-pikiran dibentuk oleh innerform.Jadi bahasa menurut Humboldt adalh sintesa dari bunyi(lautform) dan pikiran(deenform)

Bisa disimpulkan bunyi bahasa adalh bentuk luar dan pikiran-pikiran adalah bentuk dalam. Kedua bentuk inilah yang membelenggu manusia dan cara bepikirnya.

2. Teori Sapir – Whorf

Berdasarkan hipotesis Sapir-Whorf dapat dikatakan bahwa kebudayaan dan pandangan hidup masyarakat Asia Tenggara adalah sama karena bahasanya memiliki struktur yang sama.Sedankan pandangan bangsa Cina, Amerika Latin dan Eropa adalah berlainan karena struktur bahasanya berlainan.Whorf juga mengatakan bahwa bahasa menuntun pola berpikir kita contohnya : pada kalimat see tha wave strukturnya see that house.Dalam kalimat see that house kita memang dapat melihat sebuah rumah tapi pada kalimat see that wave kita sebenarnya melihat sekumpulan ombak(karena tidak ada ombak hanya satu).Ini adalah bukti bahwa pikiran kita dikungkung oleh bahasa kita

  1. Teori Jean Piaget

Menurut Piaget pikiranlah yang membentuk bahasa tanpa pikiran bahasa tidak ada.Piaget yang mengembangkan teori yang mengembangkan teori perkembangan kognisi menyatakan jika seorang anak dapat menggolongkan sekumpulan benda-benda dengan cara-cara yang berlainan sebelum anak itu dapat menggolongkan benda-benda itu dengan menggunakan kata-kata yang yang serupa dengan benda-benda tersebut maka perkembangan kognisi dapat diterangkan telah terjadi sebelum dia dapat berbahasa.

Menurut teori pertumbuhan kognisi seorang anak-anak mempelajari sesuatu mengenai tindakan-tindakan dari perilakunya kemudian baru dari bahasa.

Piaget juga mengemukakan dua hal penting yang berkaitan dengan hubungan antara bahasa dengan kegiatan-kegiatan intelek(pikiran) :

  1. Sumber kegiatan intelek tidak terdapat dalam bahasa, tapi dalam periode sensorimotorik yakni satu sistem skema, dikembangkan secara penuh dan membuat lebih dulu gambaran-gambaran dari aspek-aspek struktur golongan-golongan dan hubungan-hubungan benda-benda(sebelum mendahului gambaran-gambaran lain)dan bentuk-bentuk dasar penyimpanan dan operasi pemakaian kembali.

  2. Pembentukan pikiran yang tepat dikemukakan dan berbentuk terjadi pada yang bersamaan dengan pemerolehan bahasa.Keduanya milik suatu proses yang lebih umu yaitu konstitusi lambang pada umumnya.Awal terjadinya fungsi lambang ini ditandai oleh bermacam-macam perilaku yang terjadi serentak dalam perkembangannya.

Piaget juga menegaskan bahwa kegiatan intelek sebenarnya adalah aksi atau perilaku yang telah dinuranikan dan dalam kegiatan-kegiatan sensomotor termasuk juga perilaku perilaku bahasa.

  1. Teori L.S. Vygotsky

Berpendapat adanya satu tahap perkembangan bahasa sebelum adanya perkembngan pikiran dan satu tahap pikiran sebelum adanya perkembangan bahasa kemudian dua garis itu bertemu maka terjadilah secara serentak pikiran bahasa dan bahasa berpikir. Dengan kata lain pikiran dan bahasa pada tahap permulaan berkembang terpisah dan tidak saling mempengaruhi kemudiankeduanya bertemu bertemu saling mempengaruhi dan bekerja sama.

Menurut Vygotsky dalam mengkaji gerak pikiran ini kita harus membagi 2 bagian ucapan, yaitu ucapan dalam yang mempunyai arti yang merupakan aspek semantik ucapan dan ucapan luar yang merupakan aspek fonetik atau aspek bunyi ucapan. Dalam perkembangan bahasa masing-masing bergerak bebas. Keduanay bergerak dalam arah yang bertentangan dan perkembangan keduanya sudah terjadi pada waktu dan cara yang sama.

  1. Teori Noam Chomsky

Tentang bahasa, pemikiran Noam mengajukan tentang teori Klasik yang disebut Hipotesis Nurani. Secara tidak langsung teori ini membicarakan tentanghubungan bahasa dengan pemikiran, tetapi kita tidak dapat menarik kesimpulan mengenai hal itu karena Chomsky sendiri menegaskan bahwa pengkajian bahasa membukakan perspektif yang baik dalam pengkajian proses mental(pemikiran) manusia.

Hipotesis Nurani mengatakan bahwa struktur bahasa-dalam adalah nurani. Artinya rumus-rumus itu di bawa sejak lahir. Pada waktu seorang kanak-kanak mulai mempelajari bahasa ibu, dia telah dilengkapi sejak lahir dengan satu peralatan konsep dengan sruktur bahasa-dalam yang bersifat universal.

6. Teori Eric Lenneberg

Berkenaan dengan bahasa, Eric mengajukan teori yang disebut Teori Kemampuan Bahasa Khusus. Teori ini secara kebetulan ada kesamaan dengan teori Chomsky dan juga dengan teori Piaget.

Menurut Lenneberg banyak bukti yang menunjukkan bahwa manusia menerima warisan biologi asli berupa kemampuan berkomunikasi dengan bahasa yang khusus untuk manusia, dan tidak ada hubungan nya dengan kecerdasan dan pemikiran.

Bukti bahwa manusia telah dipersiapkan secara biologis unutk berbahasa menurut Lennerberg :

∂ Kemampuan bahasa sangat erat hubungannya dengan bagian anatomi dan fonologi manusia.

∂ Jadwal perkembangan bahasa yang sama berlaku bagi semua kanak-kanak normal.

∂ Perkembangan bahasa tidak dapat dihambat meskipun pada kanak-kanak yang mempunyai cacat tertentu, seperti buta, tuli.

∂ Bahasa tidak dapat di ajarakan pada makhluk lain.

∂ Setiap bahasa, tanpa kecuali, didasarkan pada prinsip semantic, sintaksis, dan fonologi yang universal.

GANGGUAN BERBAHASA

Manusia yang normal fingsi otak dan alat bicaranya, tentu dapat berbahasa dengan baik. Namun, mereka yang memiliki kelainan fungsi otak dan alat bicaranya, tentu mempunyai kesulitan dalam berbahasa, baik produktif maupun reseptif.

Secara garis besar gangguan dapat di bagi dua,

  • Gangguan akibat factor medis, yaitu gangguan, baik akibat kelainan fungsi otak maupun akibat kelaianan alat bicara.

  • Gangguan akibat factor lingkungan social, yaitu lingkungan kehidupan yang tidak alamiah manusia, seperti tersisih dari kehidupan masyarakat.

Secara medis, menurut Sidharta(1984), gangguan berbicara dapat di bedakan atas 3 golongan :

    1. Gangguan berbicara

Berbicara merupakan aktivitas motorik yang mengandung modalitas psikis, maka gangguan berbicara ini dapat dikelompokkan dalam 2 kategori :

      • Gangguan mekanisme berbicara

Mekanisme berbicara adalah suatu proses produksi ucapan(perkataan) oleh kegiatan dari pitan suara,lidah,otot-otot yang membentuk rongga mulut serta kerongkongan, dan paru-paru. Maka gangguan berbicara berdasarkan mekainismenya dapat dirinci menjadi :

∂ gangguan akibat faktor pulmonal

gangguan berbicara ini dialami oleh penderita penyakit paru-paru . Pada penderita ini kekuatan bernafasnya sangat kurang sehingga cara berbicaranya agak monoton, suara yang kecil dan terputus-putus.

∂ gangguan akibat faktor laringal

gangguan pada pita suara menyebabkan suara yang dihasilkan menjadi serak atau hilang sama sekali

gangguan akibat faktor lingual

gangguan yang disebabkan oleh lidah yang akan terasa sakit bila digerakkan .Dalam keadaan seperti ini maka pengucapan sejumlah fonem menjadi tidak sempurna

∂ gangguan akibat faktor resonansi

gangguan ini menyebabkan suara yang dihasilkan menjadi sengau.Pada orang sumbing misalnya, suaranya menjadi sengau karena rongga mulut dan hidung yang digunakan untuk berkomunikasi melalui defek di langit-langit keras(palatung)

      • Gangguan akibat multi faktorial

Akibat gangguan multi faktorial maka terjadinya berbagai faktor yang menyebabkan gangguan berbicara antara lain :

∂ Berbicara serampangan

Berbicara serampangan adalah berbicara dengan cepat sekali dengan artikulasi yang rusak, ditambah dengan “menelan” sejumlah suku kata, sehingga apa yang diucapkan sukar dipahami.

∂ Berbicara propulsif

Gangguan berbicara propulsif biasamya terjadi pada penderita penyakit parkinson(kerusakan otak yang menyebabkan otot menjadi gemetar,kaku dan lemah)pada penderita ini biasanya bermasalah untuk memulai suatu gerakan namun bila sudah bergerak ia tidak dapat berhenti(propulsi)

∂ Berbicara mutis(mutisme)

Penderita gangguan mutisme ini tidak berbicara sama sekali.Sebagian dari mereka dianggap membisu, yakni memang sengaja tidak mau bicara.Mutisme ini sebenarnya bukan hanya tidak dapat berkomunikasi secara verbal saja tetapi juga tidak dapat secara visual maupun isyarat.Mutisme tidak bisa disamakan dengan orang bisu apalagi bisu tuli.

      • Gangguan psikogenik

Gangguan berbicara psikogenik sebenarnya tidak bisa disebut sebagai gangguan berbicara.Mungkin lebih tepat jika disebut sebagai variasi cara berbicara yang normal.

Gangguan berbicara psikogenik antara lain :

∂ Berbicara manja

Disebut berbicara manja karena ada kesan anak(orang) yang melakukannya meminta perhatian untuk dimanja.Umpamanya anak-anak yang baru terjatuh, maka terdengar adanya perubahan pada cara bicaranya.Fonem/bunyi “s” dilafalkan menjadi bunyi “c” sehingga kalimat “saya sakit” menjadi “caya cakit”.

∂ Berbicara kemayu

Berbicara kemayu berkaitan dengan perangai kewanitaan yang berlebihan.Jika seorang pria bersifat kemayu(sindrom fonologi) maka jelas sekali gambaran yang dimaksudkan pada istilah tersebut.Berbicara kemayu dicirikan oleh gerak bibir dan lidah yang menarik perhatian dan lafal yang dilakukan secara ekstra menonjol atau lemah gemulai.

∂ Berbicara gagap

Berbicara yang kacau karena sering tersendat-sendat mendadak berhenti ,lalu mengulang-ulang suku kata pertama.Acap kali si pembicara tidak berhasil mengucapkan suku kata awal, hanya berhasil mengucapkan konsonan atau vokal awal saja meskipun dengan susah payah

Penyebab terjadinya gagap belum diketahui secara tuntas , namun hal berikut mempunya peranan dalam menyebabkan terjadinya kegagapan :stres, pendidikan anak yang dilakukan secara keras dan ketat,degan membentak-bentak, adanya kerusakan pada belahan otak(hemisphere)yang dominan, faktor neurotik fanial.

Menurut Sidartha tahun1959 kegagapan dispasia yang ringan kegagapan ini sering trjadi pada kaum laki-laki daripada perempuan dan lebih banyak diderita remaja daripada dewasa.

∂ Berbicara latah

Latah sering disamakan dengan EKULALLA,yaitu perbuatan mem-beo atau menirukan apa yang dikatakan orang lain, tetapi sebenarnya latah adalah suatu sindrom yang terdiri atas curah verbal retrotitif yang bersifat jorok(KOPROLALLA)dan gangguan lokomotorik yang dapat dipancing.Yang sering dihinggapi penyakit latah adalah perempuan yang berumur 40-an keatas.

PERKEMBANGAN BAHASA ANAK

    1. Teori perkembangan bahasa anak

Penelitian terhadap perkebangan bahasa anak tidak terlepas dari pandangan , hipotesis atau teori psiokologi.Dalam hal ini sejarah mencatat ada 3 pandangan dalam perkembangan bahasa anak yaitu :

      • Pandangan Nativisme(nature)

Diwakili oleh Noam chomsky.Nativisme berpendapat bahwa selama proses pemerolehan bahasa pertama.Manusia sedikit demi sedikit membuka kemampuan lingualnya yang secara genetis telah diprogramkan.Pandangan ini menganggap bahwa lingkungan tidak punya pengaruh dalam perolehan bahasa , hanya menganggap bahwa bahasa adalah pemberian biologis yang disebut “hipotesis pemberian alam”

Kaum nativis berpendapat bahwa bahasa itu terlalu kompleks dan rumit sehingga mustahil dipelajari dalam waktu yang sehingga.Menurut Chomsky bahasa hanya dapat dipelajari oleh manusia.Pendapat ini didasarkan pada asumsi :

∂ Perilaku berbahasa adalah sesuatu yang diturunkan

Bahasa dapat dikuasai dalam waktu yang singkat

Lingkungan bahasa si anak tidak dapat menyediakan data secukupnya bagi penguasaaan tata bahasa yang rumit dari orang dewasa

      • Pandangan Behaviorisme(nurture)

Diwakili oleh B.F. Skinner Kaum behaviorisme menekankan bahwa proses pemerolehan bahasa pertama dikendalikan dari luar diri si anak oleh rangsangan yang diberikan oleh lingkungan.Istilah bahasa oleh kaum behavioris dianggap kurang tepat karena istilah bahasa menyiratkan suatu wujud ,sesuatu yang digunakan dan bukan sesuatu yang dilakukan padahal bahasa itu merupakan suatu perilaku diantara perilaku manusia lainnya

Menurut kaum behavioris kemampuan dan memahami oleh anak diperoleh melalui rangsangan dari lingkungan anak dianggap sebagai penerima pasif tekanan lingkungan dan tidak mengakui pandangan bahwa anak menguasai kaidah bahasa dan memiliki kemampuan untuk mengabstrakan ciri-ciri penting dari bahasa di lingkungannya

      • Pandangan kognitifisme

Oleh Jean Piaget ,menyatakan bahwa bahasa itu bukanlah suatu ciri alamiah yang terpisah ,melainkan salah satu kemampuan yang berasal dari kematangan kognitif.Bahasa distrukturi oleh nalar, maka perkembangan bahasa harus berlandas pada perubahan yang lebih mendasar dan lebih umum.Jadi, urut-urutan perkembangan kognitif menentukan urutan perkembangan bahasa

Piaget menegaskan bahwa struktur yang kompleks dari bahasa bukasnlah sesuatu yang diberikan oleh alam dan bukan pula sesuatu yang dipealajri dari lingungan tapi timbul sebagai akibat dari interaksi yang terus menerus antara tingkat fungsi kognitif si anak dengan lingkungan kebahasaannya

TAHAP PERKEMBANGAN KEMAMPUAN BERBICARA DAN BAHASA

Berikut ini akan disajikan tahapan perkembangan bahasa dan bicara seorang anak. Namun perlu diperhatikan, bahwa batasan-batasan yang tertera juga bukan merupakan batasan yang kaku mengingat keunikan setiap anak berbeda satu dengan yang lain. Menurut Dr. Miriam Stoppard (1995) membagi tahapan perkembangan kemampuan bicara dan berbahasa mulai dari 0 sampai 3 tahun.

0 – 8 minggu

  • Perkembangan kemampuan berbicara dan bahasa

Pada masa awal, seorang bayi akan mendengarkan dan mencoba mengikuti suara yang didengarnya. Sebenarnya tidak hanya itu, sejak lahir ia sudah belajar mengamati dan mengikuti gerak tubuh serta ekspresi wajah orang yang dilihatnya dari jarak tertentu. Meskipun masih bayi, seorang anak akan mampu memahami dan merasakan adanya komunikasi 2 arah dengan memberikan respon lewat gerak tubuh dan suara. Sejak 2 minggu pertama, ia sudah mulai terlibat dengan percakapan dan pada minggu ke-6 ia akan mengenali suara sang ibu dimana pada usia 8 minggu, ia mulai mampu memberikan respon terhadap suara yang dikenalnya.

  • Tindakan yang dapat dilakukan orang tua

    1. Semakin dini orang tua menstimulasi anaknya dengan cara mengajaknya bercakap-cakap dan menunjukkan sikap yang mendorong munculnya respon dari si anak, maka sang anak akan semakin dini pula tertarik untuk belajar bicara. Tidak hanya itu, kualitas percakapan dan bicaranya juga akan lebih baik. Jadi akan lebih baik jika orang tua terus mengajak anaknya bercakap-cakap sejak hari pertama kelahirannya.

    2. Jalinlah komunikasi dengan dihiasi oleh senyum anda, pelukan, dan perhatian. Dengan demikian anak anda akan termotivasi untuk berusaha memberikan responnya.

    3. Tunjukkanlah selalu kasih sayang melalui peluk-cium, dan kehangatan yang bisa dirasakan melalui intonasi suara anda. Dengan demikian, anda menstimulasi terjalinnya ikatan emosional yang erat antara anda dengan anak anda sekaligus membesarkan hatinya.

    4. Selama menjalin komunikasi dengan anak anda, jangan lupa untuk melakukan kontak mata secara intensif karena dari pandangan mata tersebutlah anak bisa merasakan perhatian, kasih sayang, cinta dan pengertian.

    5. Jika anak anda menangis, jangan didiamkan saja. Selama ini banyak beredar pandangan keliru, bahwa jika bayi menangis sebaiknya didiamkan saja supaya nantinya tidak manja dan bau tangan. Padahal satu-satunya cara seorang bayi baru lahir untuk mengkomunikasikan keinginan dan kebutuhannya adalah melalui tangisan, jika tangisan nya tidak di pedulikan, lama-lama ia akan frustasi karena kebutuhanya terabaiakan.

8 – 24 minggu

  • Perkembangan kemampuan berbicara dan bahasa

Tidak harus setelah seorang bayi tersenyum, ia mulai belajar mengekspresikan dirinya melalui suara-suara yang sangat lucu dan sederhana, seperti “eh” ”ah” “oh” dan tidak lama kemudian ia akan mulai mengucapkan konsonan seperti “m” “p” “b” adn “j”. Pada usia 12 minggu, seorang bayi sudah muali terlibat pada percakapan “tunggal” dengan menyuarakan “gaga” dan pada usia 16 minggu, ia makin mampu mengeluarkan suara seperti tertawa atau teriakan riang. Pada usia 24 minggu, seorang bayi akan mulai bisa menyuarakan “ma” “ka” “da” dan sejenisnya. Sebenarnya banyak tanda-tanda yang menunjukkan bahwa seorang anak sudah mulai memahami apa yang orang lain katakan.

  • Tindakan yang dapat dilakukan orang tua

    1. Untuk bias berbicara, seorang anak perlu latihan mekanisme berbicara melalui latihan gerakan mulut, lidah, bibir. Sebenarnya aktivitas menghisap, memijat, menyemburkan gelembung dan mengunyah merupakan kemampuan yang diperlukan. Oleh sebab itu, anak harus dialtih dengan permainan maupun makanan.

    2. Sering-seringlah menyanyikan lagu untuk anak anda dengan lagu anak-anak yang sederhana dan lucu, secara berulang dengan penekanan pada ritme dan pengucapannya. Bernyanyilah dengan diselingi permainan yang bernada serta menarik.

    3. Salah satu cara seorang anak berkomunikasi di usia ini adalah melalui tertawa. Oleh sebab itu kita harus sering bercanda, tertawa, membuat suara yang lucu agar kemampuan komunikasi dan interaksinya meningkat dan mendorong tumbuhnya kemampuan bahasa dan bicara.

    4. Setiap bayi yang baru lahir, mereka akan belajar melalui pembiasaan ataupun pengulangan suatu pola, kegiatan, nama, peristiwa. Melalui mekanisme ini kita muali bisa mengenalkan kata-kata yang bermakna pada anak saat melakukan aktivitas rutin, seperti pada waktu makan, kita bisa mengatakan “nyam-nyam”.

28 minggu – 1 tahun

  • Perkembangan kemampuan berbicara dan bahasa

Usia 28 minggu seorang anak mulai bisa mengucapkan “ba” “da” “ka” secara jelas sekali. Bahkan waktu menangis pun vokal suaranya sangat lantang dan dengan penuh. Pada usia 32 minggu, ia akan mampu mengulang bebarapa suku kata yang sebelumnya sudah mampu diucapkannya. Pada usia 48 minggu, seorang anak mulai mampu sedikit demi sedikit mengucapkan sepatah kata yang sarat dengan arti. Selain itu ia mulai mengerti kata “tidak” dan mengikuti instruksi sederhana seperti “bye-bye”.

  • Tindakan yang dapat dilakukan orang tua

    1. Jadilah model yang baik untuk anak anda terutama paad masa inilah mereka mulai belajar meniru kata-kata yang didengarnya dan mengucapkan kembali. Ucapkan kata-kata dan kalimat anda secara perlahan, jelas dengan disertai tindakan(agar anak tahu artinya) dan bahasa tubuh dan ekspresi wajah kita harus pas.

    2. Anak anda akan belajar berbicara dengan bahasa yang tidak jelas bagi anda, Jadi ini lah waktu anda dengan anak, saling belajar memahami.Jadikan kegiatan ini sebagai bentuk permainan yang menyenangkan agar anak tidak patah semangat, namun jiak anda malas memperhatikan “suaranya” maka anak anda akan merasa bahwa “tidak mungkin baginya untuk mencoba mengekspresikan keinginannya”

    3. Kadang-kadang, ikutilah gumamnya, namun anda juga perlu mengucapkan kata secara benar. Jika suatu saat ia berhasil mengucapkan sesuatu suku kata atau kata dengan benar, berilah pujian yang disertai dengan pelukan, tepuk tangan, dan sampaikan padanya “betapa pandainya dia.”

    4. Jika mengucapkan sebuah kata, sertailah dengan penjelasan artinya. Lakukan hal ini terus-menerus, meski tidak semua dimengertinya. Penjelasan bisa dilakukan dengan menunjukan gambar, gerakan, sikap tubuh, atau ekspresi.

1 Tahun – 18 bulan

  • Perkembangan kemampuan berbicara dan bahasa

Pada usia setahun, seorang anak akan mampu mengucapkan dua atau tiga patah kata yang mempunyai makna. Sebenarnya, ia juga sudah mampu memahami sebuah objek sederhana yang diperlihatkan padanya. Pada usia 15 bulan, anak mulai bisa mengucapkan dan meniru kata yang sederhana dan sering didengarnya kemudian mengekspresikannya pada posisi yang tepat. Usia 18 bulan, ia sudah mampu menunjukan objek yang dilihatnya dan yang dijumpainya setiap hari. Selain itu, Ia juga mampu menghasilkan kurang lebih 10 kata yang bermakna.

  • Tindakan yang dapat dilakukan orang tua

    1. Semakin mengenalkan anak anda dengan berbagai macam suara, seperti suara mobil, motor, kucing, dsb. Kenalkan pula pada suara yang sering didengarnya, seperti pintu terbuka dan tertutup, suara air, benda jatuh, dsb.

    2. Sering-seringlah membacakan buku yang sangat sederhana dengan cerita yang menarik. Tunjukan objek yang terlihat di buku, sebutkan namanya, apa yang sedang dilakukannya, jalan ceritanya. Dan mintalah kembali apa yang telah anda sebutkan, jika ia berhasil, berilah ia pujian.

    3. Jika sedang bersamanya, sebutkan nama-nama benda, warna dan bentuk objek yang dilihatnya.

    4. Anda mulai bisa mengenalkan dengan angka, seperti mengitung benda-benda sederhana yang sering dibuat permainan. Lakukan itu dalam suasana santai dan nyaman

18 Bulan – 2 Tahun

  • perkembangan kemampuan berbicara dan bahasa

Pada rentang usia ini, kemampuan bicara anak semakin tinggi dan kompleks. Perbendaharaan katanya bisa mencapai 30 kata, dan mulai sering mengutarakan pertanyaan sederhana, seperti “mana?” dan memberikan jawaban singkat, seperti “tidak” “di sana.” Pada usia ini, mereka mulai menggunakan kata-kata yang menunjukan kepemilikan, seperti “punyaku.” Bagaimanapun juga, sebuah percakapan melinbatkan komunikasi dua belah pihak, sehingga anak akan juga belajar merespon setelah mendapatkan stimulus. Semakin hari, ia semakin luwes dalam menggunakan kata dan bahasa sesuai dengan situasi yang dihadapi. Namun perlu diingat, oleh karena perkembangan koordinasi motoriknya juga belum terlalu sempurna, kata-kata yang diucapkan masih sering kabur, misalnya: “Balon” manjadi “Aon”, “Roti” menjadi”Oti”

  • Tindakan yang dapat dilakukan orang tua

    1. Mulailah mengenalkan anak pada perbendaharaan kata yang menerangkan sifat atau kualitas, seperti “baik, indah, cantik, dingin , banyak, asin, manis, dsb.”Caranya, pada saat anak anda mengucapkan satu kata tertentu, sertailah dengan kualitas tersebut, misalnya “anak baik.”

    2. Mulailah mengenalkan padanya kata-kata yang mengenalkan keadaan atau peristiwa yang terjadi : sekarang, besok, di sini, nanti, dll.

    3. Anda juga bisa mengenalkan kata-kata yang menunjukan tempat: di atas, di bawah, di samping.

    4. Yang perlu anda ingat, janganlah menyetarakan perkembangan anak anda dengan anak yang lain karena setiap anak mempunyai hambatan yang berbeda-beda. Jadi, jika anak anda kurang lancar berbicara, jangan kemudian menekannya agar mengoptimalkan kemampuannya. Keadaan ini akan membuat ia stres.

2 Tahun – 3 Tahun

  • Perkembangan kemampuan berbicara dan berbahasa

Seorang anak mulai menguasai 200-300 kata dan senang berbicara sendiri (monolog). Sekali waktu, ia akan memperhatikan kata-kata yang baru didengarnya untuk dipelajari secara diam-diam. Mereka mulai mendengarkan pesan-pesan, yang penuh makna, yang memerlukan perhatian dengan penuh minat dan perhatian. Perhatian mereka juga semakin luas dan semakin bervariasi, mereka juga semakin lancar dalam bercakap-cakap, meski pengucapannya juga belum sempurna. Anak se usia ini juga semakin tertarik mendengarkan cerita yang lebih panjang dari kompleks. Jika di ajak bercakap-cakap, mudah bagi mereka untuk mereka untuk loncat dari satu topik pembicaraan ke yang lainnya. Selain itu, mereka sudah mampu menggunakan kata sambung “sama”, misalnya ”ani pergi ke pasar bersama ibu”, untuk menggambarkan dan menyambung 2 situasi yang berbeda. Pada usia ini mereka juga bisa menggunakan kata “aku” “saya” dengan baik dan benar. Dengan banyaknya kata-kata yang mereka pahami, mereka semakin mengerti perbedaan antar yang terjadi masa lalu, masa kini.

  • Tindakan yang dapat dilakukan orang tua

    1. Pada usia ini, anak anda akan lebih senang bercakap-cakap dengan anak se usia nya dari pada dengan orang dewasa. Oleh sebab itu, akan baik jika ia banyak di kenalkan anak-anak se usianya dan dilibatkan pada lingkungan sosial yang bisa memfasilitasi kemampuan sosial dan cara berkomunikasinya. Salah satu tujuan ortu memasukkan nursery school agar anaknya bisa mengembangkan kemampuan komunikasi sekaligus sosialisasi. Meskipun demikian, bahasa dan kata-kata yang di ucapkan masih bersifat ego sentris, namun lama-kelamaan akan bersifat sosial seiring dengan perkembangan usia dan keluasan jaringan sosialnya.

    2. Sering-seringlah menceritakan cerita menarik pada anak anda, karena sebenarnya cerita juga merupakan media atau sarana untuk mengekspresikan emosi, menamakan emosi yang disimpan dalam hati dan belajar berempati. Dari kegiatan ini pulalah anda tidak hanya belajar berani mengekspresiakn diri secara verbal tetapi juga belajar perilaku sosial.

    3. Ceritakan padanya cerita yang lebih kompleks dan kenalkan beberapa kata-kata baru sambil menerangkan artinya secara terus menerus agar ia dapat mengingatnya dengan mudah.

3 – 4 tahun

  • Perkembangan kemampuan berbicara dan bahasa

Anak-anak muali mampu menggunakan kata-kata yang bersifat perintah, hal ini juga menunjukkan adanya rasa percaya diri yang kuat dalam menggunakan kata-kata dan menguasai keadaan. Mereka senang sekali mengenali kata-kata baru dan terus berlatih untuk menguasainya. Mereka menyadari, bahwa dengan kata-kata mereka bisa mengendalikan situasi seperti yang diinginkan, bisa mempengaruhi orang lain, dan bisa mengajak teman-temannya.

  • Tindakan yang dapat dilakukan orang tua

  1. Hindari sikap mengoreksi kesalahan pengucapan kata anak secara langsung, karena itu akan membuatnya malu dan malah bisa mematahkan semangatnya untuk belajar berusaha. Anda bisa mengulangi kata tersebut secara jelas, seolah anda mengkomfirmasikan apa yang dimaksudnya.

  2. Pada usia ini, seorang anak sudah mulai bisa mengerti penjelasan sederhana. Oleh sebab itu, anda bisa muali bisa mencoba untuk mengajaknya mendiskusikan soal-soal yang sederhana, dan tanyakan apa pendapatnya tentang persoalan itu.

  3. Mulailah mengeluarkan kalimat yang panjang dan kompleks, agar ia muali belajar meningkatkan kemampuannya dalam memahami kalimat. Untuk mengetahui apakah ia memahami atau tidak, dan anda bisa melihat responnya. Artinya jika ia melakukan apa yang anda inginkan maka ia sudah mengerti kalimat anda.

  4. Anak-anak sangat menyukai kegiatan berbisik, karena hal itu permainan yang mengasyikkan buat mereka sebagai salah satu cara mengekspresikan perasaan dan keingintahuan.

  5. Pakailah cerita-cerita dongeng dan fabel yang sebenarnya mencerminkan dunia anak kita dan memakainya sebagai suatu cara untuk mengajarkan banyak hal tanpa menyinggung perasaannya. Dengan mendongeng, anda mengenalkan padanya konsep-konsep tentang moralitas, nilai-nilai, sikap yang baik dan jahat, keadilan, kebajikan dan pesan-pesan moral lainnya.

Kesimpulan

Manusia mempunyai banyak bahasa. Perkembangan bahasa itu muncul tahun 1994 yang mana pengkajian bahasa dan berbahasa telah dilakukan dan tidak terlepas dari aliran-aliran yang ada, karena filsafat adalah induk dari disiplin ilmu. Dahulu, terdapat dua aliran yang saling bertentangan yang mempengaruhi perkembangan bahasa dan psikologi, yaitu empirisme, dan nasionalisme. Pada awal perkembangannya, perkembangan bahasa bermula dari pakar bahasa yang berminat pada psikologi, dan dilanjutkan dengan kerjasama antara pakar bahasa, pakar politik, dan pakar psikologi, dan munculah psikolinguistik sebagai disiplin mandiri. Perkembangan bahasa memiliki hubungan erat antara berpikir dan budaya. Berbahasa dalam arti berkomunikasi dimulai dengan membuat enkode semantik dan enkode gramatikal di dalam otak pembicara. Banyak teori-teori pada masalah ini yaitu: Teori Willhelm, teori Sapir, teori Jean Piaget, teori LS Vygotsky, teori Noam, dan teori Erick. Adapun dalam proses berbahasa, terdapat gangguan-gangguan yang dibagi dalam dua bagian. Pertama gangguan akibat faktor medis, dan yang kedua gangguan akibat faktor lingkungan, namun menurut Sidharta(secara medis) gangguan berbahasa dibagi menjadi 3 golongan, yaitu gangguan berbicara, gangguan berbahasa, dan gangguan berfikir.

Ada juga tentang perkembangan bahasa anak, di mana terdapat beberapa teori tentang eprkembangan bahasa anak yaitu pandangan natifisme yang dimotori oleh Noam Chomsky, pandangan Behaviorisme dimotori oleh B.F Skinner, dan pandangan kognitifisme dipelopori oleh Jean Piaget. Menurut Dr. Miriam Stoppard (1995) membagi tahapan perkembangan kemampuan bicara dan berbahasa mulai dari 0 sampai 3 tahun. Yaitu 0-8 minggu, 8-24 minggu, 28-1 tahun, 1 tahun-18 bulan, 18 bulan-2 tahun, 2-3 tahun, 3-4 tahun.

DAFTAR PUSTAKA

Chaer,Abdul.2002.Psikolinguistik Kajian teoritik.Jakarta:PT.Rineka Cipta.

Santrock, JW.2002.Life-Span Development.Jakarta:Erlangga

Psychology Only

Pemaparan kasus

Johan, seorang laki-laki yang berumur 14 tahun(saat 1999) mengalami masalah yang tidak wajar, dimana pada ia mengalami suatu fase yang seharusnya sudah ia tinggalkan fase yang di hadapi, masalah atau perilaku ini sudah hilang. Perilaku yang tidak biasa dialaminya yaitu Enuresis atau mengompol. Mungkin jika johan mengompol sekali atau dua kali itu bias dikatakan wajar. Bisa saja ia mengompol karena terlalu lelah mengikuti kegiatan yang tidak biasanya ia lakukan. Namun frekuensi atau intensitas mengompol yang dilakukan johan sangat tinggi. Dalam seminggu, hampir setiap hari ia mengompol. Sebenarnya kejadian ini dianggap hal wajar oleh kedua orangtuanya saat ia kecil, namun semakin bertambah usianya, perilaku mengompolnya itu tidak bisa sembuh. Jika dilihat secara fisik, johan tidak memiliki riwayat penyakit yang serius. Badannya relatif tinggi, tetapi agak kurus. Ia agak pendiam, kawan dekatnya hanya sedikit, kelihatan agak pemurung dan pemalu, prestasi belajarnya pun sedang saja, apalagi bila dibandingkan dengan adiknya, yang ceria, pintar, lincah, dan banyak teman.
Untuk urusan pekerjaan rumah dari sekolah, ayahnyalah yang bertanggung jawab. Sering ayahnya kesal karena ia sulit menangkap pelajaran matematika. Yang menjadi ganjalan adalah hampir sekitar empat kali dalam seminggu, ia ngompol. Padahal, sebelum berangkat tidur sudah diingatkan untuk buang air kecil dulu. Sampai-sampai saya beri perlak di bawah seprainya, seperti saat dia masih bayi.
Saya tahu sebenarnya dia malu karena sering secara diam-dian dia mengganti seprainya. Saya juga mencoba memahaminya dan tidak pernah memarahi. Tetapi, saya sangat prihatin. Bahkan secara fisik johan terlihat sebagai laki-laki yang memiliki standar kesehatan yang sesuai.

Teori-teori yang sesuai dengan kasus
Teori Psikoanalisis
Menurut ahli teori psikoanalisis, perkembangan teruatama tidak disadari, artinya di luar kesadaran dan sangat di warnai oleh emosi. Mereka percaya bahwa tingkah laku hanyalah cirri permukaan, dan untuk betul-betul memahami perkembangan kita harus menganalisis arti simobolik tingkah laku dan kerja pikiran yang terdalam. Ahli psikoanalitik juga menegaskan bahwa pengalaman di masa dini dengan orang tua akan sangat membentuk perkembangan kita.
Salah seorang penganut teori psikoanalisis yaitu Sigmund Freud mengatakan bahwa kepribadian mempunyai 3 strkutur :
1. ID
ID adalah struktur tentang kepribadian yang terdiri dari naluri, yang merupakan sumber energy psikis seseorang. Id sepenuhnya tidak di sadari. Id tidak mempunyai hubungan dengan realitas

2. EGO
Ketika anak mengalami tuntutan hambatan realitas, muncul struktur kepribadian baru, yaitu Ego. Struktur kepribadian yang berfungsi mengahadapi tuntutan realitas. Ego disebut sebagai cabang eksekutif dari kepribadian karena ego membuat keputusan rasional. Id dan Ego tidak mempunyai moralitas. Tidak bisa mempertimbangkan apakah itu benar atau salah.

3. SUPER EGO
Struktur kepribadian dari Freud yang merupakan cabang moral dari kepribadian. Super ego akan menimbang apakah sesuatu itu benar atau salah. Super ego bisa kita sebut dengan hati nurani kita.

Dalam kehidupan remaja banyak dipenuhi oleh ketegangan dan konflik. Untuk mengurangi ketegangan ini, remaja menyimpan informasi dalam pikiran tidak sadar mereka. Freud juga mengatakan bahwa tingkah laku yang sepele pun mempunyai makna khusus bila kekuatan tidak sadar di balik tingkah laku itu ditampilkan
Ego mengatasi konflik antara tuntutannya untuk realitas, keinginan Id dan kekangan dari super ego yaitu dengan menggunakan mekanisme pertahanan diri (defense mechanisms). Ini merupakan istilah dari psikoanalisa untuk metode yang tidak disadari, ego merusak realitas dan karena itu melindungi dirinya sendiri dari rasa cemas. Menurut pandangan freud, tuntutan yang saling berknflik dari struktur kepribadian menyebabkan rasa cemas. Keadaan yang tidak menyenangkan ini berkembang ketika ego merasa bahwa Id akan menimbulkan gangguan pada individu. Sehingga rasa cemas memperingatkan ego agar mengatasi konflik dengan menggunakan mekanisme pertahanan.
REPRESI(repression) merupakan mekanisme pertahanan yang paling umum dan kuat. Menurut freud, impuls yang tidak dapat di terima didorong keluar dari kesadaran dan kembali ke pikiran yang tidak disadari. Represi merupakan dasar dari semua mekanisme pertahanan bekerja. Tujuan dari mekanisme ini adalah menekan atau mendorong impuls yang mengancam keluar dari kesadaran.

Dinamika psikologis

Johan yang menderita enuresis adalah anak kedua dari 4 bersaudara. Ketika ia belum mempunyai adik. Ia tidak memunculkan perilaku enuresis. Dan ia adalah anak laki-laki pertama di keluarga tersebut. Sedangkan anak pertama adalah perempuan. Karena ia adalah anak laki-laki yang pertama, maka ia selalu di manja dan mendapat perhatian lebih dari kedua orang tua nya. Sehingga memunculkan ketergantungan dari johan pada keda orang tuanya untuk selalu mendapat perhatian lebih dari mereka. Namun ketika ia mempunyai adik. Ia mulai tidak di perhatikan. Karena ia bukan lagi satu-satunya anak laki-laki yang ada di dalam keluarga tersebut. Ditambah lagi semenjak ia mempunyai adik. Keharmonisan keluarga johan mulai retak. Ayah dan ibunya sering berselisih paham. Sehingga johan mulai tidak lagi mendapat perhatian yang lebih. Karena masalah keluarga lebih mendominasi di dalam kehidupan johan. Semenjak itu johan mulai menjadi pendiam, ia sering terlihat murung, tidak banyak berbicara, dan perilaku mengompol yang dahulunya hanya terjadi pada anak-anak usia 0-3 tahun. Tidak berlaku bagi johan, masalah keluarganya hingga ia menginjak kelas 2 SMP masih tidak jelas arahnya. Ayahnya sering tidak pulang ke rumah. Sehingga sejak ia kecil hingga sekarang perilaku mengompol nya tidak sembuh. Bahkan tingkat frekuensi mengompolnya tergolong tinggi.
Pembahasan

Enuresis terjadi pada 20% anak berusia 5 sampai 6 tahun dan sekitar 1% remaja. Enuresis bisa terjadi sebagai efek dari berbagai faktor organis dan psikologis, tetapi faktor psikologis relatif lebih dominan sebagai penyebab, terutama pada penderita enuresis remaja. Masih banyak lagi masalah emosional yang bisa menyertai perilaku mengompol. Antara lain, situasi stres seperti keadaan sakit, ayah-ibu bercerai, dan lainnya. Yang justru jarang terjadi ialah mengompol yang disebabkan kondisi medis seperti infeksi saluran air seni atau penyakit kencing manis. Hanny malah menemukan, sekitar 75 persen kasus mengompol disebabkan faktor emosional.
Di antara anak-anak dan remaja, enuresis ditandai oleh pola dinamika psikologis, antara lain sebagai berikut:
a. Ekspresi tidak langsung dari kecemasan psikologis oleh berbagai sebab, misalnya tertekan di sekolah karena kurang mampu mengikuti pelajaran.
b. Suatu upaya mendapatkan perhatian dan pertolongan dari orangtua, misalnya dalam persaingannya dengan adik atau saudara sekandung lain.
c. Ekspresi kemarahan yang tidak disadari yang tertuju kepada orangtua, misalnya kemarahan yang tidak berani diungkapkan karena perlakuan orangtua yang tidak adil.
d. Neurotisisme, kecenderungan anak untuk memiliki potensi predisposisi mental yang rentan terhadap tekanan.
e. Ketidakmatangan biologis dan emosional oleh karena pemanjaan yang eksesif dan perlindungan berlebihan dari keluarga.
Dalam kasus yang dialami oleh Johan, johan merasa tertekan oleh adanya kehadiran adiknya. Karena sebelum ia mempunyai adik, ia adalah anak laki-laki satu-satunya. Dan yang paling di manja. Sehingga ia terbiasa untuk hidup dengan perhatian lebih dari kedua orang tua nya. Namun ketika ia memiliki adik, yang berjenis kelamin laki-laki, ia mulai merasa perhatian dan kasih sayangnya mulai terbagi kepada adiknya, ditambah lagi dengan munculnya permasalahan antara ayah dan ibunya. Dan permasalahan antara ayah dan ibunya itu sangat membuat johan merasa cemas. Sehingga dalam usia yang sangat dini ia harus belajar untuk mandiri.
Dalam teori psikoanalisa, Freud mengatakan bahwa johan melakukan REPRESI(repression) merupakan mekanisme pertahanan yang paling umum dan kuat. Menurut freud, impuls yang tidak dapat di terima didorong keluar dari kesadaran dan kembali ke pikiran yang tidak disadari. Represi merupakan dasar dari semua mekanisme pertahanan bekerja. Tujuan dari mekanisme ini adalah menekan atau mendorong impuls yang mengancam keluar dari kesadaran.
Dari masalah yang dilalui oleh johan. Ia mengalami kecemasan yang tidak wajar, meski itu tidak terlihat secara langsung dari tingkah lakunya. Namun kecemasan itu ia salurkan melalui Enuresis.
Penyebab enuresis pada umumnya adalah 50% kasus disebabkan oleh terlambatnya pematangan sistem syaraf atau kelainan sistem syaraf otot kandung kencing. 30% kasus disebabkan oleh masalah psikologis atau kejiwaan, dan 20% kasus dengan adanya penyakit organik.
Etiologi (penyebab) enuresis (ngompol) itu:
1. Keterlambatan pematangan sistem saraf ini masih pro dan kontra, biasanya berhubungan dengan faktor genetik. Dari hasil penelitian, 77% anak enuresis, kedua ortunya enuresis. Sedangkan 44% anak enuresis, karena salah satu orangtuanya enuresis. Dan hanya 15 % anak enuresis bila kedua orangtuanya tidak enuresis.
2. Keterlambatan perkembangan
Disebabkan oleh kurangnya latihan pola buang air yang baik (toilet training).
3. Hormon Antidiuretik (ADH)
Tapi hal ini masi belum jelas
4. Faktor urodinamik
Bisa faktor anatomi (kapasitas kandung kemih hanya sedikit), tidak adanya penghambat kontraksi kandung kemih, tidak adanya koordinasi antara otot kandung kemih dengan sfingter.
5. Faktor tidur yang dalam
6. Faktor psikologi
Faktor stres selama periode 2-4 tahun. Keadannya yang paling sering: pemisahan dari keluarga, kematian ortu, kelahiran saudara kandung, pindah rumah, pertengkaran ortu dan child abuse. Enuresis karena stres, biasanya bersifat kambuhan dan sementara,
7. Faktor organic
a. Saluran genitourinary
kelainan anatomi
b. Infeksi
setiap enuresis harus dicurigai adanya infeksi saluran kemih (ISK atau Urinary Tract Infection/UTI). 45% perempuan yang bakteriuria (ada bakteri di urin—>tanda infeksi) timbul enuresis. Sedangkan pada perempuan tanpa bakteriuria, kejadian enuresis hanya 17 %.
c. Lain2,,,
kelainan anatomi atau alergi makanan tertentu.

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.